Review buku “Wawasan, Tantangan, dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia”

Istilah agribisnis muncul sekitar tahun 1956 kemudian disusul oleh munculnya istilah agroindustri sekitar tahun 1980-an. Pengetahuan tertulis mengenai lingkup dan kinerja agribisnis dan agroindustri merupakan hal yang penting bagi para pekerja bidang produksi pangan, pengolahan, pemasaran, atau pasar pengguna. Oleh karena itu, buku ini baik sebagai sumber pengetahuan tentang pentingnya ilmu agribisnis maupun agroindustri bagi orang-orang yang tertarik di bidang pertanian.

Indonesia merupakan negara agraris, karena sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah sebagai petani. Namun, sebenarnya tidak hanya petani saja yang terlibat di dalam bidang pertanian tersebut. Tentu saja banyak pihak yang memanfaatkan bisnis di bidang pertanian tersebut, hal ini dapat dilihat nyata melalui tidak hanya pihak petani saja yang mendistribusikan hasil pertanian ke tangan rakyat yang berperan sebagai konsumen, melainkan banyak sekali pengusaha-pengusaha di bidang agribisnis maupun agroindustri yang memanfaatkan peluang bisnis di bidang pertanian ini. Pihak-pihak tersebut di antaranya adalah para pedagang besar yang berada di pasar induk, pedagang pengecer, para pengolah hasil pertanian di bidang agroindustri, manajer jasa pelayanan pangan, turis, dan konsumen lokal itu sendiri. Semua agropreneur harus juga dapat menjadi agrotechnopreneur karena dapat mengedepankan elemen-elemen dan terobosan teknologi pada semua aspek inovasinya dalam mengembangkan perusahaan mereka.

Tidak hanya di bidang industri saja, namun di bidang agribisnis maupun agroindustri tentu saja diperlukan adanya inovasi untuk mencapai mutu produk yang tinggi dan pasokan secara berkelanjutan. Selain itu, diperlukan pula manajemen, baik itu manajemen di bidang teknologi maupun menajemen usaha dalam arti luas. Agrotechnopreneurship didefinisikan sebagai kemampuan dalam mengelola suatu usaha di sektor agribisnis/agroindustri melalui pemanfaatan teknologi serta mengedepankan inovasi dalam upaya pengembangan bisnisnya. Terdapat 3 faktor yang menentukan keberhasilan agrotechnopreneur yakni inovasi, prospek dan pengembangan bisnis, serta penyediaan kapital, baik dana inisiasi maupun kapital lanjutan.

Di bidang pertanian, banyak pengusaha-pengusaha yang apatis dan tidak berani mengambil resiko untuk melakukan inovasi di bidang usahanya, karena takut akan kerugian yang datang. Untuk itu, di dalam membangun organisasi agrinisnis dan agroindustri yang inovatif, pengusaha wajib memiliki visi, kemampuan memimpin dan memiliki keinginan inovasi yang kuat. Contoh bisnis inovatif dari suatu negara adalah negara Malaysia yang fokus untuk menjadikan negaranya sebagai pusat bisnis produk pangan halal internasional.

Di masa kini, banyak sekali agrotechnopreneur yang sukses dalam menjalankan bisnisnya, khususnya di bidang agribisnis dan agroindustri. Pengusaha-pengusaha yang telah sukses tersebut diantaranya adalah Arsenio Barselona yang sukses menjual berbagai jenis tanaman, Bob Sadino yang terkenal dengan supermarket Kem Chicks, Faiza Bawumi yang merupakan spesialis bumbu masak di Malaysia, dll. Pengusaha yang paling menarik bagi saya yaitu Martha Tilaar, yang pertama kali memulai bisnisnya dari sebuah salon kecantikan sederhana bernama “Martha Salon” pada tahun 1970 yang berlokasi di garasi rumah ayahnya. Sejak awal berdirinya salon tersebut, Martha Tilaar telah mempergunakan produk-produk kecantikan dari bahan alami (hasil pertanian) yang diramunya sendiri. Hingga saat ini, Martha Tilaar merupakan contoh seorang pengusaha yang memiliki komitmen untuk mencintai produk dalam negeri demi membangun kemandirian bangsa, khususnya di industri jamu dan kosmetika berbasis produk pertanian.

Martha Tilaar memiliki komitmen yang tinggi untuk membangun industri jamu dan kosmetika berbasis bahan alami, yang notabene adalah produk-produk dari komunitas agribisnis. Agar mampu bersaing di pasar global, beliau sangat memperhatikan inovasi dalam penciptaan produknya. Oleh karena itu, beliau melakukan investasi yang cukup besar untuk kepentingan riset dan pengembangan, misalnya dengan mengirim staff ahli farmasinya belajar ke luar negeri atau mengikuti berbagai pameran kosmetika di luar negeri.
Berawal dari sebuah salon kecil, bisnis jamu dan kosmetika Martha Tilaar berkembang menjadi Martha Tilaar Group, yaitu sebuah grup usaha industri kamu dan kosmetika dengan produk merk dagang Sariayu Martha Tilaar. Saat ini grup perusahaan tersebut memayungi 11 anak perusahaan dan memperkerjakan sekitar 6000 orang karyawan. Grup perusahaan secara resmi didirikan sebagai badan usaha pada tahun 1971.

Selain Martha Tilaar, ada pula pengusaha Sosroadjodjo yang memulai bisnisnya dari Teh Cap Botol, yaitu teh seduhan yang dikenalkan melalui program cicip rasa, yang kemudian semakin lama menjadi Teh Botol yang kita kenal sekarang. Semua kesusksesan dari agrotechnopreneur itu tentunya tidak lepas dari kemauan untuk melakukan inovasi, baik dalam aspek produksi maupun manajemen secara umum. Untuk menjadi agrotecnopreneur sejati, tentunya diperlukan semangat agrotechnopreneurship dan tidak takut untuk mengambil resiko untuk berinovasi di bisnisnya.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: